اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُم اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَاَهْدَى سَبِيْلاً
“Katakanlah (hai Muhammad) : Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus (jalan yang ditempuhnya).” (Al-Isra’ : 84
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2016

Hewan Buas Tak Mau Memakan Daging Keturunan Rasulullah

Hewan Buas Tak Mau Memakan Daging Keturunan Rasulullah. 
                                [Kisah Nyata] 


Alkisah, di masa Daulah Abbasiyah, tepatnya ketika Khalifah Al Mutawakkil menjabat sebagai kepala negara, seorang wanita bernama Zainab, mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah cucu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menyebut dirinya adalah putri dari pasangan; Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma.

Bagaimana mungkin ia masih hidup ketika itu? Berarti ia hidup selama dua ratus tahun lebih, karena rentang masa antara zaman nubuwah dan Daulah Abbasiyah, berkisar dua abad lamanya.

Meskipun pengakuannya ini tidak masuk akal, tetapi di tengah masyarakat, Zainab merupakan orang yang cukup berpengaruh. Ia memiliki banyak pengikut. Bahkan ia mampu mengeksploitasi harta pengikutnya. Maka Khalifah Al Mutawakkil pun mengeluarkan perintah untuk mengundangnya ke istana.

“Kamu ini seorang gadis dan Rasulullah telah wafat ratusan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? ” khalifah mencecar Zainab.

Kemudian Zainab berkata, “Sesungguhnya Rasulullah megusap kepalaku dan berdoa kepada Allah untuk mengembalikan masa mudaku setiap empat puluh tahun sekali.”

Masih belum yakin dengan jawaban yang tidak masuk akal ini, Khalifah Al Mutawakkil mengumpulkam masyayikh (para tetua) keturunan Ali bin Abi Thalib, putra-putra Al-‘Abbas, segenap warga Quraisy, dan memberitahu mereka perkara Zainab yang sangat kontroversial. Dan kemudian mereka pun menyebutkan sebuah riwayat bahwa Zainab telah wafat.

“Apa yang kamu katakan untuk menjawab pernyataan mereka?” khalifah kembali bertanya penuh selidik kepada Zainab.

“Itu riwayat palsu dan keji. Karena sesungguhnya, privasiku terjaga dari pengetahuan orang-orang. Bahkan mereka tidak tahu tentang kehidupan dan kematianku.” Zainab mematahkan tuduhan itu dengan penuh percaya diri.
Kemudian Khalifah bertanya kepada jama’ah yang dia kumpulkan, “Adakah kalian memiliki bukti yang dapat mengungkap tipu daya wanita ini selain riwayat yang kalian sampaikan?” Sayangnya mereka menjawab, “Tidak.”

Namun beberapa saat kemudian, sebagian mereka menawarkan satu solusi untuk memecahkan masalah ini dengan mendatangkan Ali bin Muhammad bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, yang mempunyai laqob (nama panggilan) “Al-Haadi.”

Setelah disampaikan kepadanya apa yang sedang terjadi, Al Hadi pun menegaskan bahwa Zainab putri Ali sudah lama meninggal dengan menyebutkan tahun, bulan, dan hari kematiannya. Tetapi bukan jawaban seperti ini yang diinginkan Sang khalifah. Beliau bahkan berjanji tidak akan melepaskan Zainab sebelum membungkamnya dengan hujjah yang kuat.

“Jika benar dia adalah anak Fathimah”, akhirnya Ali Al Hadi kembali bersuara, berusaha mengungkap tipu daya Zainab dengan mengajukan sebuah tantangan, “Sesungguhnya jasad keturunan Fathimah tidak akan dimangsa oleh hewan-hewan buas. Maka datangkanlah hewan buas kepadanya. Dan lemparkan ia di tengah kerumunan hewan buas itu.”

“Tidak!” teriak Zainab yang raut wajahnya tetiba berubah ketakutan. “Ini hanyalah cara agar dia bisa membunuhku! Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya.” katanya berusaha membela diri.

Dengan tenang, Ali Al Hadi berkata, “Ya. Aku berani membuktikannya.” Dan beberapa saat kemudian, ia dimasukkan ke dalam sebuah kandang. Perlahan-lahan, enam ekor singa yang ada di dalam kandang itu, mendekati Ali satu per satu. Dengan lembut, tangan Ali membelai kepala singa-singa yang mendekatinya. Binatang-binatang buas itu, di hadapan Ali Al Hadi, menjadi jinak dan penurut.

Begitu melihat Ali keluar dari kandang dengan selamat, dan dilihatnya dengan mata kepala sendiri sebuah pemandangan yang langka, Zainab pun hanya terdiam seribu bahasa. Dan, akhirnya, ia akui kebohongan yang selama ini ia desuskan, tipu daya yang selama ini dia mainkan. Masyarakat yang mengetahui kejadian ini, menjulukinya dengan sebutan, “Zainab Al Kadzaabah.”

Referensi: Al Mafakhir karya An Naisaburi. Lisan Al Mizan karya Ibnu Hajar Al ‘Asqallani. Dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi.

Wallahu a'lam.

Like Dan Share!

Minggu, 09 Agustus 2015

SUBHANALLAH!! Kisah Seorang Pemuda Dan Abah Guru Sekumpul

Pernah ada seorang pemuda dan pemuda ini terkenal dengan kelakuan buruknya; preman, pemabuk, pecandu, dan bertato.

Dan suatu ketika, entah kenapa pada hari minggu itu dia ingin sekali pergi untuk menghadiri pengajian Abah Guru Sekumpul.


”Aku harus berangkat, walau tanpa ada uang sepeserpun aku yakin berkah beliau mampu mengatasi masalah keuangan ini.“ Kata pemuda itu.

Maka berangkatlah pemuda itu, tanpa sarung, hanya pakai celana levis lusuh, baju kaos, dan kopyah butut. Karena pakaian muslimin satu pun dia tidak punya.

Sampai di depan gang, baru saja sekitar 5 menit kurang, tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti persis didepan dia, dan orang didalam sedan itu membuka pintu mobilnya sambil berkata:

”Mau ke pengajian Abah Guru Sekumpul ya? ya udah naik aja temanin saya.” Kata orang didalam sedan itu.

Maka pemuda itu pun naik dengan sedikit bingung, bingung dan heran karena baru pertama kali dia naik sedan mewah, bingung dan heran kenapa orang ini tau bahwa dia mau ikut hadir di pengajian Abah Guru Sekumpul. Padahal dia berpakaian layaknya seorang preman, dan didalam mobil tersebut hanya dia dan orang itu.

Singkat cerita..

Sampailah pemuda itu ke tempat pengajian Abah Guru Sekumpul, tepat didepan mesjid pancasila, baru saja pemuda turun dan ingin mengucapkan kata terima kasih, secara tiba-tiba mobil tersebut menghilang, belum selesai kebingungannya, tiba-tiba ada suara yang yang menegur:

”Nak, mau mengaji ke Abah Guru Sekumpul ya? ya udah naik aja ke becak Bapak.” Kata Bapak tersebut.

Maka pemuda itu naik, dengan pikiran yang bingung, apa yang sebenarnya terjadi, sesampai di depan gang hijrah pemuda itu diturunkan oleh Bapak tersebut, dan kejadian yang seperti tadi terulang kembali. Bapak tukang becak itu pun menghilang, dan entah kemana perginya.

”Mungkin ini semua berkah Abah Guru Sekumpul untuk aku” Kata pemuda itu dalam hatinya.

Maka pemuda itu pun masuk kedalam, ada kedamaian dalam hatinya, ada kesejukan, kedamaian batin yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.

Maka ia pun duduk diantara para jamaah yang lain, tertunduk, setiap kata yang Abah Guru Sekumpul sampaikan dia resapi dan dengan sendirinya air mata pemuda itu jatuh membasahi pipinya.

"Semua harus ku akhiri dunia hitam ini!” ucap pemuda itu didalam hati.

Secara tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menepuk pundaknya, dan memberi sebuah amplop putih lantas Bapak itu berkata:

”Ini dari Abah Guru, terimalah.“ Kata bapak itu.

Dan pemuda itu menangis terharu sambil memeluk Bapak-Bapak tersebut.

”Terima kasih banyak Pak.” Kata pemuda itu.

”Berterima kasihlah kepada ALLAH SWT, ini semua berkat keberkahan Abah Guru Sekumpul.” Kata bapak itu.

Tertulis diamplop itu nama pemuda tersebut dengan jelas dan benar beserta bin nya, padahal si pemuda tersebut baru pertama kali ke tempat Abah Guru, mengapa Abah Guru jadi mengetahuinya? itulah Waliullah..

Dan pemuda itu pun membuka isi amplop tersebut, dan ternyata isinya uang sebesar 2 juta, dan didalam amplop itu ada secarik kertas yang berbunyi.

”Jadikan uang ini untuk modal berdagang, jangan salah gunakan, karena Allah maha tahu.” Kata Abah Guru Sekumpul dalam tulisan kertas tersebut.

Akhir cerita..

Pemuda itu pun sekarang menjadi seorang pedagang yang sukses dan banyak membuka cabang toko dimana-mana. Dan salah satu toko beliau berada di pasar sudi mampir.

Penulis: Habib Ahmad bin Faqih Basyaiban.

Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kita terhadap Abah Guru Sekumpul dan mendapatkan Rahmat Allah SWT karena telah mengisahkan para Kekasih-Nya.

Amin ya rabbal 'alamin.

Ceramah Ustad Abdul Somad di Masjid Az-Zikra Sentul

TEGAS! Dihadiri Kapolri, Ustad Abdul Somad mengingatkan Umat Islam Pilih Pemimpin yang Adil